Selamat Datang
Belajar dan Kursus dari Rumah
Belajar Bahasa Inggris dari rumah, program belajar 1 tahun sampai dengan level Advance....
KBA Mandiri singkatan dari Kursus Belajar untuk Anak secara Mandiri (Home Schooling). Galery produk berkualitas untuk pembelajaran bahasa asing, pengasah kecerdasan dan penambah pengetahuan, sehingga anak/ siswa dapat belajar dengan mandiri dirumah, dibimbing orang tua, atau siapapun yang diberi kepercayaan(Home Schooling). Kuncinya adalah belajar dilakukan dengan metode "fun learning" agar anak tidak mengalami stres dalam belajar lanjut baca
Kamis, 10 Desember 2009
Stres pada anak: gejala, penyebab, dampak dan penanggulannya
Dalam pandangan global, dunia anak adalah dunia impian yang hanyalah dipenuhi dengan berbagai kesenangan, kebahagiaan dan ketenangan. Namun tahukah kita bahwa anak-anakpun dapat mengalami stres? Kenyataan membuktikan bahwa selain hal-hal yang menyenangkan, kehidupan anak-anak sekarang ini juga telah dipenuhi oleh pelbagai beban persoalan dan tekanan sama seperti yang dialami oleh orang dewasa pada umumnya. Permasalahan-permasalahan yang dialami anak bisa berasal dari lingkungan maupun dari dalam diri mereka sendiri dan apabila tidak teratasi atau terkontrol dengan baik akan berujung pada perubahan-perubahan fisik dan mental yang dapat membahayakan diri mereka sendiri. Kondisi-kondisi seperti inilah yang dikenal sebagai stres.
Dalam istilah medis, stres didefinisikan sebagai suatu rangsangan fisik dan psikologi yang menghasilkan reaksi mental dan fisiologi yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Sedangkan secara teknis, stres merupakan pengrusakan keseimbangan tubuh (homeostasis), yang dicetus oleh pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan, baik yang nyata maupun yang tidak nyata. Untuk lebih mudah memahami stres yang terjadi pada anak maka sangatlah penting bagi orang dewasa untuk mengetahui dan memahami berbagai hal yang berkaitan dengan stres pada anak seperti tanda-tanda atau gejala, faktor penyebab, dampak, serta bagaimana strategi untuk mencegah dan menanggulangi stres pada anak.
Tanda dan gejala stres pada anak. Anak-anak yang sedang mengalami stress mungkin tidak tahu bahwa mereka sedang berada dalam kondisi stres, sehingga dibutuhkan peran orang tua untuk mengenali tanda-tanda stress pada anak. Pengenalan tanda-tanda stress pada anak secara dini oleh orang tua sangat membantu anak-anak untuk coping dengan situasi yang mereka alami. Namun, berbeda dengan orang dewasa, gejala stres pada anak sangatlah tidak mudah untuk dikenali.
Secara umum gejala atau tanda-tanda stres pada anak dapat dikelompokkan dalam beberapa katagori:
a) gejala fisik: seperti ngompol, sulit tidur, menurunnya napsu makan, gagap, sakit perut, sakit kepala, dan mimpi buruk,
b) gejala emosi: ditandai dengan rasa bosan, tidak adanya keinginan untuk berpartisipasi pada aktivistas di rumah maupun di sekolah, takut, marah, menangis, kebiasaan berbohong, mengasari teman, atau memberontak terhadap aturan-aturan, bereaksi secara berlebih-lebihan terhadap masalah-masalah yang kecil, dan perubahan drastis dalam penampilan akademik;
c) gejala kognitif: ditunjukkan melalui ketidakmampuan berkonsentrasi atau menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan sekolah, dan suka menyendiri dalam waktu yang lama;
d) gejala tingkah laku: ditunjukkan dengan ketidakmampuan mengontrol emosi, menunjukkan sikap brutal dan keras kepala, dan perubahan tingkah laku jangka pendek seperti temperamen yang berubah-ubah dan perubahan dalam pola tidur, munculnya kebiasaan-kebiasaan baru seperti mengisap jempol, memutar-mutar rambutnya, atau mencubit-cubit hidung।
Penyebab stres pada anak. Setelah mengetahui berbagai tanda atau gejala stres pada anak, tentu kita ingin mengetahui secara gamblang apa faktor penyebab stres pada anak. Pepatah mengatakan bahwa :“the sooner to know the causes, the better to cure the effects”. Pepatah ini merupakan motivasi yang sangat baik bagi orang tua untuk mengetahui faktor-faktor penyebab stress pada anak, sehingga mereka mampu mengambil tindakan pertolongan bagi anak-anak mereka agar coping dengan stress yang dihadapi serta mampu mencegah atau menghindari terjadinya stress pada anak.
Menurut Prof. Marian Marion dalam bukunya Guidance for young children, ada dua faktor utama penyebab stress (stressors) pada anak yakni faktor internal dan faktor eksternal। Yang termasuk dalam faktor internal antara lain rasa lapar, rasa sakit, sensitivitas terhadap bunyi/keributan, perubahan suhu, dan kondisi keramaian (kepadatan manusia). Sedangkan faktor eksternal meliputi perpisahan atau perceraian dalam keluarga, perubahan dalam komposisi keluarga, menghadapi pertengkaran dan konflik, menghadapi kejahatan, mengalami tindakan kekerasan dari sesama teman (bullying), kehilangan sesuatu yang berharga misalnya hewan kesayangan, diperhadapkan dengan tugas yang harus diselesaikan secara bertubi-tubi, terburu-buru (hurrying), dan kehidupan sehari-hari yang tidak teratur dengan baik. Dari semua faktor penyebab stress yang sudah disebutkan, menurut spesialis pengembangan manusia dari University of Illinois Cooperative Extension (Christine M. Todd), stress fisik (seperti rasa lapar, mengantuk atau mendapat peringatan akibat tingkah laku yang kurang baik) merupakan penyebab utama masalah tingkah laku pada anak.
Dampak stres pada anak. Stress dapat berdampak positif maupun negative dan dipengaruhi oleh umur dan tingkatan stres. Stress yang berdampak positif (misalnya mengikuti kejuaraan tertentu dan belajar mengendarai sepeda) merupakan bagian yang normal dari kehidupan anak setiap hari. Berkaitan dengan umur, semakin muda anak, semakin besar dampak yang ditimbulkan dari hal-hal baru, dan semakin kuat serta potensial pula stress negatif terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak negatif dari stress lebih banyak terjadi pada anak-anak yang berumur di bawah 10 tahun, yang memilki temperamen menurun seperti “sulit” atau “slow but warm-up”, dan yang dilahirkan prematur. Stress yang terjadi secara berkepanjangan (chronic stress) sangat membahayakan bagi kesehatan dan perkembangan mental anak, seperti menurunkan kekebalan tubuh (immune system) untuk melawan penyakit dan infeksi, merusak system pencernaan, menghambat pertumbuhan, merusak emosi, perkembangan fisik dan sel-sel otak anak.
Pencegahan dan penanggulangan stress pada anak. Untuk menolong anak-anak yang sedang menghadapi stress diperlukan strategi pengendalian yang tepat dari orang dewasa. Strategi pengendalian ini haruslah didasarkan pada tingkat perkembangan anak karena hal ini sangat berkaitan dengan kemampuan anak untuk mengerti dan memahami keadaan yang sedang mereka alami. Para pakar anak menyebutkan bahwa ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencegah serta mengurangi stres pada anak seperti:
1. Istirahat yang cukup dan nutrisi yang baik dapat menolong anak-anak dalam mengatasi stress.
2. Menyediakan waktu yang berkualitas dengan anak setiap hari. Biarkan anak mengutarakan masalah yang sedang dihadapi dan menuliskannya. Pada kesempatan ini anak diajak bermain bersama-sama atau berbicara dari hati ke hati tentang bebagai masalah yang dihadapi oleh mereka serta mencari jalan keluar bersama. Ajarkan anak untuk mentransfer strategi pengendalian stress kepada situasi yang lain. Dengan demikian mereka akan merasa bahwa mereka sangat berarti bagi orang tua mereka.
3. Sebelum anak menghadapi hal-hal baru dalam keluarga yang dapat menyebabkan stress (misalnya kelahiran anggota keluarga baru), maka perlu bantuan orang tua mempersiapkan anak dengan cara untuk memberikan pemahaman tentang hal-hal baru yang akan terjadi dalam keluarga. Hal ini akan menolong mengurangi beban stress anak. Namun, persiapan yang berlebih-lebihan juga dibuktikan dapat menyebabkan lebih banyak stress. Orang tua dapat menilai apakah pemahaman yang diberikan sudah cukup atau belum dengan cara memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya jika ia ingin mengetahui lebih banyak.
4. Menyediakan lingkungan yang mendukung bagi anak dimana mereka dapat bermain atau mengekpresikan bakat seni mereka.
5. Menolong anak-anak untuk mampu mengidentifikasi berbagai strategi penanggulangan stres (misalnya meminta pertolongan jika ada seseorang yang menggoda/mengganggu, mengatakan kepada mereka kalau kamu tidak menyukainya atau meninggalkan orang yang mengganggu)
Menolong anak-anak untuk mengenal, menamai, menerima dan mengekspresikan perasaan mereka secara tepat.
6. Mengajarkan kepada anak-anak teknik relaksasi (beristirahat). Berikan saran-saran seperti: “tarik napas yang dalam”, “berhitung mendur”, “tarik dan regangkan otot-ototmu”, “bermain dengan adonan tanah liat”, “berdansa” atau “membayangkan tempat-tempat yang disukai untuk dikunjungi dan menghayal mengunjungi tempat-tempat tersebut”).
7. Latihan menggunakan berbicara pada diri sendiri (self-talk skills) seperti “saya akan mencoba”, saya piker saya mampu melakukannya”, ini akan menolong anak dalam mengendalikan stress mereka.
Beberapa strategi dasar meliputi penerapan strategi disiplin positif, mengikuti rutinitas secara konsisten, dan meningkatkan kerja sama.
8. Jangan membebani anak dengan masalah yang sedang dihadapi orang tua. Tetapi katakanlah kepada mereka tujuan hidup keluarga dan diskusikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dengan sikap yang menyenangkan.
9. Berilah pujian pada anak ketika mereka melakukan hal-hal yang baik dan jangan lupa untuk memberikan pelukan dan ciuman.
10. Gunakanlah humor sebagai buffer terhadap perasaan-perasaan dan situasi yang kurang baik. Anak yang mempelajari humor akan lebih baik untuk menjaga segala sesuatu dalam persepsi.
11. Jangan memberikan beban yang berlebihan kepada anak dengan aktivitas dan tanggung jawab diluar sekolah. Biarkan anak-anak untuk belajar mengatur waktu mereka dengan baik. Jangan meminta mereka untuk selalu menjadi nomor satu dalam segala hal.
12. Berikanlah contoh dan teladan yang baik kepada mereka sehingga mereka akan meniru tingkah laku orang tuanya. Tunjukkan kepada mereka keahlian untuk mengontrol pengendalian diri dan keahlian untuk mengendalikan stress. Dengan melihat hal ini akan memberikan keuntungan bagi mereka karena nantinya mereka akan mampu mengendalikan stress mereka secara baik.
13. Carilah teman atau para profesional untuk menolong anda apabila masalah yang dihadapi terlalu berat untuk ditangani sendiri.
Kesimpulannya, pengetahuan dan pemahaman yang benar tentang hal-hal yang berkaitan dengan stres pada anak seperti tanda-tanda atau gejala stress, faktor penyebab, berbagai dampak yang ditimbulkan dan berbagai metode pengandaliannya merupakan informasi yang sangat bermanfaat bagi orang tua dalam menerapkan strategi yang tepat untuk mencegah dan mengurangi stress yang terjadi pada anak.
Written by: Catootjie (Penulis adalah staf pengajar pada Politeknik Pertanian Negeri Kupang dan sedang melanjutkan pendidikan doctoral (S3) pada IFNHH-Massey University, di New Zealand)
Under the Microscope Edisi Ind. About Human Body

A comprehensive set of 8 volume for home and school use. Lavishly illustrated with photographs, diagrams, maps and charts written by an expert team of author and consultants.
8 Volume of Books :
1. Hearts.
2. Skeleton.
3. Digesting.
4. Making life.
5. Breathing.
6. Senses.
7. Muscles.
8. Brain.
48 pages per volume.
Colour photographs.
Microscopic visual.
Illustrated explanations.
Through glossary & Index.
Lihat Brosur, klik
Harga Rp. 1.300.000,- Program cicilan dan promosi klik disini
Rabu, 09 Desember 2009
Selasa, 08 Desember 2009
Peluang Usaha
Paket Usaha Kursus untuk Anak-anak, Remaja dan Dewasa.
Dengan total biaya investasi yang terjangkau untuk kalangan pebisnis pemula, kami akan memberikan dukungan berupa
- Business Plan.
- Pelatihan Manajemen Lembaga Pendidikan.
- Perekrutan dan pelatihan SDM.
- Materi pelajaran yang berkualitas.
- Pengembangan usaha/ promosi
Initial Investment Rp. 10.000.000,-
Info lebih lanjut contact 021-33402089 / 081218407323
TIPS BELAJAR BAHASA INGGRIS SECARA MANDIRI # 1
Mungkin diantara anda sekalian akan bertanya, Apa bisa belajar bahasa inggris secara mandiri (otodidak, tanpa mengkuti kursus bahasa secara khusus dan belajar dalam suatu institusi)?
Jawabnya adalah bisa!
Saya bisa mengatakan demikian karena saya secara pribadi telah membuktikannya dan juga saya menyaksikan sendiri beberapa orang di sekitar sayapun berhasil melakukan hal yang serupa. Bahkan saya mendapatkan tambahan bukti yang meyakinkan ketika saya tinggal di Jogja sekitar 3 tahun saat sebelum krisis moneter tahun 1997 ketika kunjungan wisatawan dari mancangara (yang berbahasa inggris) sangat banyak. Saya menyaksikan bahwa ternyata di sekitar Malioboro Jogjakarta banyak sekali anak-anak muda yang berjualan souvenir dan jadi “guide illegal” (karena tidak memiliki semacam lisensi / SIM dari dinas pariwisata) yang bisa berkomunikasi dengan bahasa inggris dengan para wisatawan manca MESKIPUN mereka bulan sarjana jurusan bahasa inggris atau kursus bahasa inggris!
Baiklah saya tidak akan bertele-tele. Langsung saja saya memulai tips belajar bahasa inggris secara mandiri. Inilah beberapa kiatnya:
1. AMBaK (Apa Manfaatnya Bagi Ku?) : dalam bahasa yang lebih keren adalah – anda harus mempunyai visi yang jelas ketika hendak mempelajari bahasa inggris.
Wah apa pula visi itu?
Begini, untuk belajar apapun, anda HARUS MEMPUNYAI SUATU DORONGAN YANG KUAT. Artinya: UNTUK APA ANDA MEMPELAJARI HAL (BAHASA) ITU? Dari contoh yang saya kemukakan di atasa tentang pemuda jogja yang tinggal di daerah wisata, seperti malioboro. Mereka mempunyai dorongan yang sangat besar untuk belajar bahasa inggris. Dorongan tersebut berupa keinginan MENDAPATKAN UANG dengan menguasai bahasa inggris. Artinya jika mereka tidak bisa berbahasa inggris mereka tidak bisa menjual souvenir dan menjadi guide bagi turis.
Tidak harus uang hal bisa memotivasi anda.. banyak hal.. yang apa penting apa saja yang membuat anda termotivasi. Adik saya belajar bahasa inggris dengan motivasi agar dia bisa mendapatkan foto-foto dari pemain sepak bola eropa yang di belakangnya ada tanda tangan asli dari sang idola. Di rumah saya ada foto kiper timnas italia beberapa tahun lalu yaitu, Buffon – ada lagi Gianluca Pagliuca, dan sebagainya, semuanya asli dan ditandatangi. Adik saya mendapatkan itu semua dengan mengirim surat ke mereka dan tentu saja dengan berbahasa inggris. Nah itu contoh dari AMBaK dalam belajar bahasa inggris.
Sekarang apa AMBaK anda dalam belajar berbahsa Inggris?
2. Cari Hal yang menyenangkan!: Tidak ada satu metode yang pas dalam belajar bahasa inggris untuk semua orang. Orang boleh mengatakan metode A, B, C atau Z yang paling bagus, tetapi saya yakin dan banyak bukti bahwa banyak orang yang belajar dengan metode-metode tersebut merasa tidak berhasil. Artinya pendekatan belajar tiap orang TIDAK SAMA. Kalau anda memahami teori multiple Intelligence (MI) dan dasar-dasar quantum learning (QL) atau Neuro Lingustic Programming (NLP), anda pasti tahu hal itu. Bagi yang belum tahu saya akan ingin menjelaskan sedikit saja, untuk lebih jelasnya anda bisa cari di mbah Gugel, dengan kata kunci MI, QL atau NLP dengan modalitas (kecenderungan) belajar.
Singkatnya begini, menurut teori MI, semua orang cerdas. Ada cerdas musikal, bahasa (lingusitic), seni, fisikal dan seterusnya. Setiap orang yang mempunyai kecerdasan tertentu mempunyai kecenderungan belajar berebeda. Misalnya: orang yang mempunyai kecerdasan musikal, akan mudah sekali jika belajar menggunakan musik atau bahkan pelajaran itu dimasukkan dalam musik/nyanyian, contohnya anak-anak TK diajari sesuatu dengan cara bernyanyi.
Saya ingat ketika masih SMA dulu, saya dan dua orang temen saya suka berlomba-lomba mendengarkan Rick Dees Bulletin top 40 – tangga lagu mingguan lagu-lagu manca negara yang dipancarkan sebuah radio FM ternama di kota Surabaya dan Malang. Setiap sabtu sore atau minggu malam saya selalu “stay tune” di depan radio dan mendengarkan dan berburu lagu terbaru dan berusaha merekamnya di kaset yang sudah kami siapkan. Begitu dapat sebuah entri lagu baru yang asyik di dengar, maka saya selalu berusaha menuliskan liriknya – tentu untuk menuliskan lirik lagu berbahasa inggris saya harus memutar lagu itu berkali-kali. Selain itu saya harus mengecek lagi apakah arti dari setiap kata yang saya tulis, selanjutnya saya cek apakah kata-kata tersebut memang “masuk akal” secara susunan dan artinya. Hari Senin-nya saya dan temen saya mencoba untuk membandingkan hasil yang kami peroleh… puas rasanya bisa membuat transkrip lagu baru yang temen-temen lain belum tahu… untuk mencocokkannya kami biasanya menunggu dari temen yang beli kaset atau dari majalah-majalah remaja yang memuat lirik lagu teresbut. (jaman segitu belum ada internet lho.. di Malang jadinya ya harus bersabar lama untuk membuat crosscheck hasil transkrip lirik yang kami buat – kalau sekarang saya kira lebih mudah dengan adanya internet).
Selain membuat transkrip lagu, kami biasanya membuat parodi dari sebuah lagu yang terkenal. Biasanya sih untuk meledek teman tertentu kami membuat sebuah lagu tetep dengan syair bahasa inggris dengan nada yang sama Cuma isi syairnya saja yang berbeda- kami sesuaikan dengan keinginan kami (walau untuk urusan ledek-meledek ini saya sangat tidak menyarankan karena bisa membuat orang marah – he..he… tapi kalau untuk parodinya bolehlah)
Ketika kuliah, saya sudah tidak begitu suka mendengarkan dan berburu lagu-lagu terbaru, selain karena fasilitas tidak mendukung, radio lokal tidak ada yang menyiarkan acara yang sering saya dengarkan ketika SMA dulu. Yang jelas saya menemukan teman yang suka membuat parodi lagu-lagu. Tidak saja lagu bahasa inggris yang diubah liriknya tetapi lagu-lagu bahasa indonesiapun kami ubah liriknya ke dalam bahasa inggris meskipun artinya tidak sama persis dengan lagu aslinya.
Tidak hanya memparodikan lagu, saya juga memparodikan naskah-naskah drama pendek atau potongan dialog-dialog yang kami anggap menarik yang kami dapat di mata kuliah drama atau mata kuliah lainnya.
Selain membuat parodi, karena saya juga sangat suka menulis, maka saya membuat tulisan berupa puisi dan catatan harian dengan bahasa inggris dengan menggunakan kosa kata (frasa) terbaru yang kami dapat dari lagu atau di saat kuliah.
Dari kegiatan itu saya merasakan bahwa kemampuan berbahasa saya meningkat dan saya tidak perlu menghafalkan kosa kata secara khusus.
Rabu, 02 Desember 2009
Bagaimana Memanfaatkan Masa Keemasan Anak secara bijak?
Masa keemasan (golden age) seorang anak adalah merupakan masa paling penting bagi pembentukan pengetahuan dan prilaku anak. Oleh sebab itu, banyak para orang tua yang kemudian "menjejali" anaknya dengan berbagai hal sejak usia dini.Terlebih saat ini semakin banyak tawaran produk atau jasa yang ditujukan untuk anak-anak kita, dengan alasan yang kerap dipakai adalah Golden Age manusia hanya terjadi pada anak-anak, sehingga sang orang tua hanya dihadapkan kepada dua pilihan mau
berbuat sebanyak-banyaknya atau membiarkan saja masa itu berlalu ?
Seorang ibu, Sundari 35 tahun di bilangan Menteng Jakarta Pusat menuturkan bahwa anaknya sejak berusia 2 tahun hingga sekarang berusia 5 tahun dan sudah memasuki TK, sudah diikutkan dalam berbagai kegiatan seperti kursus komputer, bahasa Inggris, piano, renang, ballet, aritmatika, melukis, dan menari. "Pokoknya saya buat anak saya ini super sibuk mumpung otaknya masih bersih" ujarnya. (mainnya kapan ya ?). Untunglah ibu Sundari termasuk golongan the have, jadi tidak ada masalah mau bagaimanapun anaknya dibentuk.
"Pokoknya saya buat anak saya ini super sibuk mumpung otaknya masih bersih" ujarnya.
Lebih-lebih kalau bicara soal pertumbuhan badannya, disamping diberi minum susu yang bagus, juga ditambahkan dengan makanan suplemen kesehatan fisik dan otak yang harganya selangit. Hanya persoalannya tepatkah sikap ibu tersebut dalam mengisi masa keemasan anaknya ?
Memang menurut beberapa penelitian para ahli mereka sepakat bahwa otak manusia itu mengalami proses perkembangan dari tingkat yang paling dahsyat sampai kemudian melemah. Menurut catatan Gordon Dryden dan Jeannette Vos, seperti ditulis dalam bukunya Learning Revolution (1999), para peneliti membuktikan bahwa 50% kemampuan belajar anak ditentukan dalam 4 tahun pertamanya, dan 30%-nya
sebelum usianya mencapai 8 tahun.
"Tapi ini tidak berarti bahwa si anak menyerap 50% pengetahuan, atau 50% kearifan, atau 50% kecerdasan pada usia ke empat. Maksudnya adalah, dalam empat tahun pertama itu anak membentuk jalur-jalur belajar utama di otaknya (koneksi dalam otak). Materi apapun yang ia pelajari nanti akan berdiri di atas dasar jalur-jalur itu," tulisnya menegaskan tentang empat tahun pertama.
Imam Ratrioso seorang psikolog meluruskan pandangan umum tentang golden age anak bahwa masa itu tidak lantas si anak dijejali dengan 1000 halaman buku dan berbagai suplemen kesehatan. Yang justru lebih penting adalah kualitas pengasuhan kita. Mengapa ?
"Karena golden age adalah masa dimana jalur belajar anak tentang karakter, sikap, intelek, emosi, dan moral manusia dibentuk. Semakin bagus kualitas pengasuhannya, berarti semakin banyak dan bagus jalur belajar yang terbentuk di otaknya" jawab Imam.
Phil Silva, Direktur Riset di Universitas Otago - New Zealand, menyimpulkan bahwa anak yang pertumbuhan jalur belajarnya bermasalah pada usia dini akan cenderung mengalamai masalah pada usia remaja.Bagaimana seharusnya orang tua ?Kalau kita ingin mencari anak yang hidupnya enak, pastinya tempatnya sudah jelas, di rumah mewah, sekolah yang bayarnya mahal, restoran jetset, dan mobil yang mentereng.
Tapi kalau mencari anak yang punya otak hebat, tempatnya tidak jelas. Kita bisa temukan anak berotak hebat itu di rumah mewah atau di gubuk reyot, rumah kontrakan, bahkan ada yang di tenda-tenda pengungsian. Ada juga kita temukan di sekolah mahal bertaraf internasional atau di sebuah pesantren dekat kaki gunung nun jauh di sebuah desa terpencil, bahkan ada juga di panti asuhan.
Itulah sebabnya kalau kita membaca biografi tentang orang-orang besar dunia, dari mulai para nabi hingga orang biasa, akan kita temukan fakta yang tidak seragam
Itulah sebabnya kalau kita membaca biografi tentang orang-orang besar dunia, dari mulai para nabi hingga orang biasa, akan kita temukan fakta yang tidak seragam mengenai asal usul dan latar belakang sosial mereka. Ada yang dari keluarga dan lingkungan yang enak, dan ada dari situasi dan kondisi lingkungan yang sama sekali tidak nyaman.
Walau demikian, mereka memiliki kesamaan umum yang di istilahkan oleh pakar pengembangan diri sebagai "learning" (punya tradisi belajar). Belajar adalah upaya seseorang untuk menyalakan api kejeniusan.
Ada tiga faktor manusia menjadi jenius. Pertama, karena diajar oleh Tuhan langsung sejak dari kandungan. Kedua, karena diajar oleh Tuhan secara tidak langsung melalui pengasuhan yang bagus dari orang dewasa disekitarnya. Ketiga, karena diajar oleh Tuhan secara tidak langsung melalui pengalaman pahit dalam hidupnya.
Pasti kita tidak pernah tahu termasuk golongan mana anak kita nanti. Karena itu, yang paling penting dilakukan oleh para orangtua adalah harus senantiasa menyalakan api kejeniusan atau merangsang terbentuknya berbagai jalur belajar di otaknya, bukan seperti orang mengisi keranjang dengan konsumerisme (memasukkan berbagai kursus, mengonsumsi semua jenis suplemen gizi, dan lain-lain). Dan itu semua ditentukan oleh pola pendidikan dan pengasuhan yang berkualitas.
Pola Pengasuhan Rasulullah SAW
Rasulullah SAW menganjurkan para orang tua untuk memberi bekal kebaikan kepada anak sejak dini "minal mahdi ilal lahdi" dengan pola pendekatan melalui permainan yang menggembirakan, tidak kasar, berdisiplin, dan ajarkan pengetahuan sesuai dengan tingkat usianya.
Bahkan dalam hal pemberian nama saja Rasulullah menganjurkan agar memberi dengan nama yang baik supaya terbentuk konsep diri positif. Termasuk juga memberi makanan bergizi. Kriteria bergizi menurut beliau adalah : Pertama, harus halal dan baik secara kesehatan, dan kedua, harus benar dalam cara mendapatkannya. Beliau mengingatkan jangan sampai kita memberi makanan yang haram dan diperoleh secara haram karena makanan itu akan menjadi daging dan itu akan ikut membentuk perilaku.
Selanjutnya Rasulullah juga mengingatkan kita agar menanamkan sejak dini kepada anak kita tradisi bersyukur. Syukur adalah menggunakan karunia Allah dengan cara yang benar dan untuk hal-hal yang benar, baik, serta bermanfaat. Wallahu a'lam.
(sal/voa-islam dari berbagai sumber).
http://www.voa-islam.com/news/technology/2009/07/25/456/masa-keemasan-anak/

